Selasa, 26 Juni 2012

Bahaya plastik pembungkus makanan bagi kesehatan


Kemasan makanan merupakan bagian dari makanan yang sehari-hari kita konsumsi. Bagi sebagian besar orang, kemasan makanan hanya sekadar bungkus makanan dan cenderung dianggap sebagai “pelindung” makanan. Sebetulnya tidak tepat begitu, tergantung jenis bahan kemasan.Sebaiknya mulai sekarang Anda cermat memilik kemasan makanan. Kemasan pada makanan mempunyai fungsi kesehatan, pengawetan,kemudahan,penyeragaman, promosi, dan informasi. Ada begitu banyak bahan yang digunakan sebagai pengemas primer pada makanan, yaitu kemasan yang bersentuhan langsung dengan makanan.Tetapi tidak semua bahan ini aman bagi makanan yang dikemasnya.Inilah ranking teratas bahan kemasan makanan yang perlu Anda waspadai.Jaman dahulu yang namanya wadah danpembungkus makanan dan bahan makanan, tidak lepas dari bahan-bahanyang bersumber dari alam khususnya daun-daunan seperti daun pisang, daun jagung, hingga wadah yang dianyam dari bambu, seperti besek misalnya.
Seiring dengan perkembangan teknologi dan gaya hidup, wadah danpembungkus makanan alami tersebut mulai ditinggalkan masyarakat dan diidentikan dengan kumuh, tidak higienis, tidak praktis, perlahan berganti dengan pembungkus/wadah buatan manusia yang kini biasa kita gunakan seperti kertas, pastik, kaleng dan styrofoamSelama ini, wadah danpembungkus makanan buatan yang modern itu memang menciptakan kesan praktis, simple dan bersih. Bagaimana dengan sisi negatifnya? seberapa aman wadah dan pembungkus buatan bagi kesehatan?
Ragam Wadah/Pembungkus&Resikonya
Plastik
Bahan pengemas yang satu ini mudah didapat dan sangat fleksibel penggunaannya. Selain untuk mengemas langsung bahan makanan, seringkali digunakan sebagai pelapis kertas. Jenis plastik sendiri beraneka ragam, ada Polyethylene, Polypropylen, Poly Vinyl Chlorida (PVC), dan Vinylidene Chloride Resin. Secara umum plastik tersusun dari polimer yaitu rantai panjang dan satuan-satuan yang lebih kecil yang disebut monomer. Polimer ini dapat masuk dalam tubuh manusia karena bersifat tidak larut, sehingga bila terjadi akumulasi dalam tubuh akan menyebabkan kanker. Bila makanan dibungkus dengan plastik, monomer-monomer ini dapat berpindah ke dalam makanan, dan selanjutnya berpindah ke tubuh orang yang mengkonsumsinya.Bahan-bahan kimia yang telah masuk ke dalam tubuh ini tidak larut dalam air sehingga tidak dapat dibuang keluar, baik melalui urin maupun feses (kotoran).
Penumpukan bahan-bahan kimia berbahaya dari plastik di dalam tubuh dapat memicu munculnya kanker. Sebuah penelitian di Jepang mengindikasikan, polysterene dapat menjadi penyebab kanker dan berpengaruh pada sistem saraf pusat. Sedangkan Poly Vinyl Chlorida dan Vinylidene Chloride Resin merupakan dioksin, yaitu senyawa kimia yang digolongkan sebagai penyebab utama kanker karena sifatnya yang sangat beracun.Masing-masing jenis plastik mempunyai tingkat bahaya yang berbeda tergantung dari material plastik dan bahan kimia penyusunnya. Perpindahan monomer-monomer plastik ke dalam makanan dipicu oleh beberapa hal, yaitu panas, asam dan lemak. Jadi, sebaiknya sayur bersantan, susu dan buah-buahan yang mengandung asam organik tidak dibungkus plastik dalam keadaan panas, ataupun kalau terpaksa jangan digunakan terlalu lama.Penggunaan plastik boleh digunakan jika bahan yang dimasukkan dalam keadaan dingin.
Namun demikian memang ada plastik khusus yang bertuliskan tahan lemak dan tahan dingin. Akan tetapi tetap saja Plastik jenis ini hanya boleh dipakai selama bahan yang dimasukkan tidak panas. Semakin tinggi suhu makananyang dimasukkan ke dalam plastik, semakin cepat terjadi perpindahan ini. Apalagi bila makanan berbentuk cair seperti bakso, mie ayam, sup, sayuran berkuah dan sebagainya. Saat makanan panas ini dimasukkan ke dalam plastik, kita bisa lihat plastik menjadi lemas dan tipis. Inilah tanda terputusnya ikatan-ikatan monomer.
Kalaupun terpaksa menggunakan plastik sebagai pembungkus, usahakan secepat mungkin makanan dapat dipindahkan ke wadah yang aman, karena semakin lama kontak makanan dengan plastik, semakin banyak bahanberbahaya yang pindah ke makanan. Perpindahan monomer juga terjadi bilamakanan atau minuman dalam wadah plastik terkena panas matahari secara langsung. Karena itu, usahakan menghindari air minum dalam kemasan yangterpapar matahari, atau permen yang telah lengket dengan pembungkusnya karena leleh oleh panas. Perhatikan juga untuk tidak menuang air minum atau sayuran panas ke dalam wadah plastik dan menggunakan alat-alat makan dari plastik saat makanan masih panas. Pilih makanan yang dikukus dengan dibungkus daun, bukan plastik seperti lemper, lontong kue lupis dan sejenisnya.
Yang relatif lebih aman digunakan untuk makanan adalah Polyethylene yangtampak bening, dan Polypropylen yang lebih lembut dan agak tebal. Poly Vinyl Chlorida (PVC) biasanya dipakai untuk pembungkus permen, pelapis kertas nasi dan bahan penutup karena amat tipis dan transparan. Sedangkan Vinylidene Chloride Resin dan Poly Vinyl Chlorida (PVC) bila digunakan mengemas bahan yang panas akan tercemar dioksin, suatu racun yang sangat berbahaya bagi manusia.Dioksin ini bersifat larut dalam lemak, maka terakumulasi dalam pangan yang relatif tinggi kadar lemaknya. Kandungan dioksin tersebar (97,5%) ke dalam produk pangan secara berurutan konsentrasinya yaitu daging, produk susu, susu, unggas, daging babi, daging ikan dan telur. Oleh karena itu penggunaan plastik ini sering digunakan sebagai pembungkus permen, pelapis kertas nasi dan bahan penutup karena amat tipis dan transparan.

Styrofoam
Bahan pengemas styrofoam atau polystyrene telah menjadi salah satu pilihan yang paling populer dalam bisnis pangan. Tetapi, riset terkini membuktikan bahwa styrofoam diragukan keamanannya. Styrofoam yang dibuat dari kopolimer styren ini menjadi pilihan bisnis pangan karena mampu mencegah kebocoran dan tetap mempertahankan bentuknya saat dipegang. Selain itu, bahan tersebut juga mampu mempertahankan panas dan dingin tetapi tetap nyaman dipegang, mempertahankan kesegaran dan keutuhan bahan yang dikemas, biaya murah,lebih aman, serta ringan. Pada Juli 2001,Divisi Keamanan Pangan Pemerintah Jepang mengungkapkan bahwa residu styrofoam dalam makanan sangat berbahaya. Residu itu dapat menyebabkan endocrine disrupter (EDC), yaitu suatu penyakit yang terjadi akibat adanya gangguan pada system endokrinologi dan reproduksi manusia akibat bahan kimia karsinogen dalam makanan Styrofoam yang ringan dan praktis ini masuk dalam kategori jenis plastik.
Berasal dari foamed polysterene (FPS) dengan bahan dasar polysterene dan berciri khas ringan, kaku, tembus cahaya, rapuh dan murah. Bahan yang lebih dikenal sebagai gabus ini memang praktis, ringan, relatif tahan bocor dan bisa menjaga suhu makanan dengan baik. Inilah yang membuat bahan ini amat disukai dan banyak dipakai, termasuk dalam industri makanan instan. Namunbahan ini sebenarnya tak kalah berbahaya dengan plastik.Untuk memperkuat Styrofoam ditambahkan bahan butadiene sejenis karet sintetis, sehingga warnanya berubah dari putih jernih menjadi putih susu. Supaya lentur dan awet, ditambah lagi dengan zat plasticer seperti dioktiptalat (DOP) dan butyl hidroksi tolune (BHT).
Kandungan zat pada proses terakhir inilah menurut penelitian kimia LIPI dapat memicu timbulnya kanker dan penurunan daya pikir anak. Kemudian proses pembuatannya ditiup dengan memakai gas chlorofluorocarbon (CFC). CFC merupakan senyawa gas yang disebut sebagai penyebab timbulnya lubang ozon di planet Bumi. Saat ini sejumlah peralatan eketronik seperti kulkas dan AC dilarang menggunakan bahan bersenyawa CFC. Selain itu bahan dasar plastik yang dikenal dengan monomer strine yang mengandung racun mudah bermigrasi, dan dikhawatirkan mencemarkan makanan. Menurut Zaim Saidi dari Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia, migrasi tersebut dapat terjadi karena monomer plastik, terutama stirena bisa larut dalam air. Sementara itu, Menurut Prof. Aisjah Girinra, ahli biokimia pada lab Biokimia FMIPA-IPB, Styreneyang menjadi bahan dasar styrofoam bersifat larut lemak dan alkohol. Berarti wadah dari jenis ini tidak cocok dijadikan wadah susu atau yoghurt yangmengandung lemak tinggi.
Begitu juga dengan kopi yang dicampur krim. Bila pengemas ini digunakan untuk mengemas makanan bersuhu tinggi, maka kandungan kimianya dapat terurai dan masuk terakumulasi dalam tubuh.Makin lama makanan atau minuman kontak dengan permukaan plastik, migrasi zat racun akan meningkat. Karena sifatnya akumulatif maka akibatnya baru akan terasa 10-15 tahun kemudian. Pada restoran siap saji banyak memakai wadah syrofoam untuk menyuguhkan kopi panas. Hal ini lebih didasarkan pada kelebihan styrofoam yang ringan, tahan bocor dan mampu menahan panas sampai beberapa waktu.
Produk-produk sup dan minuman hangat di restoran cepat saji pun menggunakan wadah ini. Begitu pula produk-produk makanan instan, mesti diseduh dalam wadahnya yang terbuat dari styrofoam. Mie instan, bubur ayam instan misalnya. Dengan sifat-sifatnya seperti itu, sudah selayaknya kita lebih berhati-hati menggunakan styrofoam.Dari hasil survei yang di lakukan di AS pada tahun 1986, ditemukan 100 persen jaringan lemak orang Amerika mengandung styrene yang berasal dari styrofoam. Bahkan pada penelitian 2 tahun berikutnya, kandungan styrene sudah mencapai ambang batas yangbisa memunculkan gejala gangguan saraf. Sebuah studi di New Jersey, AS, menemukan bahwa 75 persen ASI mengalami kontaminasi styrene yangberasal dari konsumsi ibu yang menggunakan wadah styrofoam.
Pada ibu-ibu yang mengandung, styrene juga bisa bermigrasi ke janin melalui plasenta. Dampak jangka panjang dari menumpuknya styrene di dalam tubuh adalah gejala saraf seperti kelelahan, nervous, sulit tidur dan anemia. Pada anak, selain menyebabkan kanker, sekian tahun kemudian styrene juga menyerang sistem reproduksinya. Kesuburan menurun, bahkan mandul. Anakyang terbiasa mengkonsumsi styrene juga bisa kehilangan kreativitas dan pasif. Styrofoam, sebagaimana plastik, bersifat reaktif terhadap suhu tinggi.
Ambang batas styrene di dalam tubuh sangat sedikit, sehingga bila melebihi batas maka akan mengakibatkan gangguan-gangguan saraf seperti kelelahan, nervous, sulit tidur dan anemia serta kesuburan menurun.Di negara-negara maju seperti Jepang dan negara Eropa pengemas ini sudah dilarang, sedangdi Cina masih menjadi polemik. Tidak diperbolehkannya dipergunakan selain alasan yang berhubungan dengan kesehatan juga berhubungan dengan pemusnahannya yang sangat sulit membusuk. Di Indonesia pengemas ini malah mulai ngetren dengan harga yang relatif murah.Kalau hendak menggunakan styrofoam untuk menjaga makanan tetap hangat, sebaiknyamakanan dimasukkan terlebih dahulu dalam wadah tahan panas dan dijaga tidak ada kontak langsung dengan styrofoam. Sedangkan penggunaannya sebagai wadah, harus diperhatikan untuk mendinginkan makanan terlebih dahulu sebelum memasukkan dalam wadah styrofoam. Makanan instan dan restoran yang menggunakan wadah ini, sebaiknya dihindari demi kesehatan kita dan keluarga kita. Salah satu cara untuk mengantisipasinya adalah dengan tidak sering menggunakan benda tersebut.

Kertas
Beberapa kertas kemasan dan non-kemasan (kertas koran dan majalah) yang sering digunakan untuk membungkus makanan, terdeteksi mengandung timbal (Pb) melebi hi batas yang ditentukan. Di dalam tubuh manusia, timbal masuk melalui saluran pernapasan atau pencernaan menuju sistem peredaran darah dan kemudian menyebar ke berbagai jaringan lain, seperti: ginjal, hati, otak, saraf dan tulang. Keracunan timbal pada orang dewasa ditandai dengan gejala 3 P, yaitu pallor (pucat), pain (sakit) & paralysis (kelumpuhan). Keracunan yang terjadipun bisa bersifat kronis dan akut. Untuk terhindar dari makanan yang terkontaminasi logam berat timbal, memang susah-susah gampang. Banyak makanan jajanan seperti pisang goreng, tahu goreng dan tempe goreng yang dibungkus dengan Koran karena pengetahuan yang kurang dari si penjual, padahal bahan yang panas dan berlemak mempermudah berpindahnya timbale makanan tsb.Sebagai usaha pencegahan, taruhlah makanan jajanan tersebut di atas piring.Penggunaan kertas sebagai bahan pembungkus telah menjadi hal yang umum dimasyarakat sebagaimana digunakannya plastik dan Styrofoam. Umumnya kertas yang digunakan adalah kertas koran atau kertas bekas. Ada pula, kertas nasi yang dilapisi plastik serta kertas yang telah mengalami pemutihan.
Faktanya kertas memang paling banyak digunakan untuk membungkusmakanan dari makanan gorengan sampai makanan yang memerlukan penyimpanan lama seperti teh celup dll. Pada bahan makanan mentah kertas juga digunakan untuk membungkus sayuran, ikan kering bahkan bumbu dapur (kalau kita belanja di pasar tradisional atau warung), sampai aneka ragam gorengan, peuyeum, dan sebagainya. Padahal, bila bagian kertas yangbertinta terkena panas dari makanan, minyak dari gorengan atau bagian cair dari makanan, maka tinta akan terlarut dalam makanan.Tinta mengandung unsur dasar timbal (Pb) atau timah hitam yang beracun dan tentunya sangat berbahaya bagi kesehatan. Unsur ini sama dengan yang terdapat pada polutan dari kendaraan bermotor. Bila timbal tersebut terakumulasi dalam tubuh maka akan menyebabkan gangguan saraf dan bahkan dapat menyebabkan kanker.
Pada suatu penelitian wanita hamil yang banyak terakumulasi timbal, dapat mengakibatkan cacat bawaan pada janin dan merusak otak sehingga kecerdasan anak rendah. Pada laki-laki dewasa, timbal menurunkan kualitas sperma sehingga mempersulit punya keturunan (mandul). Dan pada anak-anak, timbal mengakibatkan penurunan daya konsentrasi dan kecerdasan. Penggunaan Kertas yang telah diputihkan dan sering digunakan sebagaipembungkus teh celup juga berbahaya bagi tubuh. Kertas ini berbahaya karena sudah ditambahkan bahan pemutih (chlorine), suatu unsur yang dapat menimbulkan kanker.
Contoh yang menggunakan kertas ini adalah teh celup dan tissue. Bila terkena suhu tinggi akan menghasilkan dioksin, suatu senyawa racun yang berbahaya bagi kesehatan kita. Tahun 1998 WHO menetapkan ambang batas aman konsumsi dioksin, yaitu 1-4 pikogram (sepertriliun gram) dioksin per-kilogram berat badan.Dalam jumlah sedikit saja sudah sangat berbahaya, apalagi bila dalam jumlah besar maka dioksin akan bersifat karsinogenik (menyebabkan kanker). Konsentrasi lebih tinggi lagi akan menyebabkan penyakit kulit chloracne (jerawat yang parah disertai dengan erupsi kulit dan kista). Selain itu dioksin juga akan menyebabkan penurunan hormon reproduksi pria hingga 50% dan menyebabkan kanker prostat dan kanker testis.
Pada wanita dioksin akan menyebabkan kanker payudara dan endometriosis, yakni jaringan selaput lendir rahim yang masih berfungsi tumbuh di luar rongga rahim.Oleh karena itu untuk menghindarkan hal-hal di atas bila tidak terpaksa gunakan teh (teh tubruk) secara langsung, dan gunakanpembungkus yang aman seperti daun pisang dan aluminium foil.Itulahbahan-bahan pembungkus dan wadah makanan yang berbahaya. Dengan kondisi masih rendahnya kesadaran masyarakat, maka selain pensosialisasian masalah, kita juga mulai harus meningkatkan kehati-hatian. Bukankah mencegah lebih baik daripada mengobati ?

Kaleng
Kaleng yang dipergunakan untuk mengemas makanan itu cukup aman sebatas tidak berkarat, tidak penyok dan tidak bocor. Namun demikian bila kita akan mengonsumsi makanan yang dikemas dalam kaleng ini perlu melakukan pemanasan ulang. Yakni kurang leblh l5 menit untuk menghindarkan adanya E-coli yang sangat mematikan.

Gelas
Gelas merupakan bahan pengemas yang aman. Gelas banyak digunakan untuk mengemas minuman ataupun makanan yang telah diproses melalui proses fermentasi seperti acar, taoco, kecap, dan lain-lain.

Styrofoam Karsinogenik?
“Beberapa wadah mie instan berbentuk gelas atau mangkuk mengandung risiko yang tinggi, karena biasanya mi yang berada dalam wadah tersebut dituang dengan air panas dan mie-nya langsung dimakan. Padahal dari penelitian YLKI, wadah tersebut terbuat dari polystyrene yang diduga bersifat karsinogenik,” demikian Ilyani Sudardjat, staf Bidang Penelitian YLKI. YLKI memang dalam Warta Konsumen edisi April 2000 tadi menurunkan hasil surveinya tentang kemasan plastik untuk makanan/minuman dan ancamannya terhadap konsumen sebagai laporan utama. Selain polystyrene yang masih diragukan keamanannya oleh YLKI, konsumen perlu mewaspadai kemasan plastik yang mengandung polivinyl chloride (PVC), karena selain bersifat karsinogenik juga mengandung dioksin yang berbahaya bagi kesehatan manusia maupun lingkungan. Beberapa wadah fast-food yang dijajakan dipusat perbelanjaan, ternyata mengandung PVC berkadar lebih dari 95 persen; begitu pula plastic wrap berupa plastik sangat tipis yang diklaim tidak lumer dalam microwave oven. “Ini tentu menyesatkan.
Ada produsen plastic wrap yang menyatakan bahwa produknya food grade,yang aman dan tidak mengandung toksin selama digunakan pada fungsi yangsebenarnya. Namun, siapa dapat menjamin pemanasan dengan microwave oven tidak akan mengurai molekul plastik? Juga tidak ada jaminan semua kemasan plastik yang masuk ke Indonesia tidak mengandung residu monomeryang berbahaya,” kata Ilyani pula. Seyogianyalah konsumen waspada dan pedagang tidak menyesatkan. Tidak sedikit kita saksikan penjual makananjajanan seperti Bakso, Mie Ayam, bubur ayam dll, menggunakan Styrofoam sebagai wadah pengganti piring yang mengandung polistiren. Dengan kuahyang panas, tidak mustahil sebagian molekul polistiren terlarut dan masuk ke dalam tubuh para konsumen. Ini tentu bukan hanya ulah pedagang dengan dalih “praktis” dan tak perlu lagi mencuci mangkuk bekas pakai-karena banyak penjaja makanan cepat saji lain di berbagai pertokoan juga melakukan halyang sama.

Sudah banyak orang yang memberi peringatan, rumor, gosip bahkan artikel majalah tentang bahaya plastik. Tetapi tetap saja hanya segelintir orang yang menggubris, peduli atau sampai meneliti lebih lanjut.
Plastik adalah salah satu bahan yang dapat kita temui di hampir setiap barang. Mulai dari botol minum, TV, kulkas, pipa pralon, plastik laminating, gigi palsu, compact disk (CD), kutex (pembersih kuku), mobil, mesin, alat-alat militer hingga pestisida. Oleh karena itu kita bisa hampir dipastikan pernah menggunakan dan memiliki barang-barang yang mengandung Bisphenol-A. Salah satu barang yang memakai plastik dan mengandung Bisphenol A adalah industri makanan dan minuman sebagai tempat penyimpan makanan, plastik penutup makanan, botol air mineral, dan botol bayi walaupun sekarang sudah ada botol bayi dan penyimpan makanan yang tidak mengandung Bisphenol A sehingga aman untuk dipakai makan. Satu tes membuktikan 95% orang pernah memakai barang mengandung Bisphenol-A.
Plastik dipakai karena ringan, tidak mudah pecah, dan murah. Akan tetapi plastik juga beresiko terhadap lingkungan dan kesehatan keluarga kita. Oleh karena itu kita harus mengerti plastik-plastik yang aman untuk kita pakai.
Apakah arti dari simbol-simbol yang kita temui pada berbagai produk plastik?
1. PETE atau PET (polyethylene terephthalate) biasa dipakai untuk botol plastik yang jernih/transparan/ tembus pandang seperti botol air mineral, botol jus, dan hampir semua botol minuman lainnya. Boto-botol dengan bahan #1 dan #2 direkomendasikan hanya untuk sekali pakai. Jangan pakai untuk air hangat apalagi panas. Buang botol yang sudah lama atau terlihat baret-baret.

2. HDPE
 (high density polyethylene) biasa dipakai untuk botol susu yang berwarna putih susu. Sama seperti #1 PET, #2 juga direkomendasikan hanya untuk sekali pemakaian.
3. V atau PVC (polyvinyl chloride) adalah plastik yang paling sulit di daur ulang. Plastik ini bisa ditemukan pada plastik pembungkus (cling wrap), dan botol-botol. Kandungan dari PVC yaitu DEHA yang terdapat pada plastik pembungkus dapat bocor dan masuk ke makanan berminyak bila dipanaskan. PVC berpotensi berbahaya untuk ginjal, hati dan berat badan.
4. LDPE (low density polyethylene) biasa dipakai untuk tempat makanan dan botol-botol yang lembek. Barang-barang dengan kode #4 dapat di daur ulang dan baik untuk barang-barang yang memerlukan fleksibilitas tetapi kuat. Barang dengan #4 bisa dibilang tidak dapat di hancurkan tetapi tetap baik untuk tempat makanan.
5. PP (polypropylene) adalah pilihan terbaik untuk bahan plastik terutama untuk yang berhubungan dengan makanan dan minuman seperti tempat menyimpan makanan, botol minum dan terpenting botol minum untuk bayi. Karakteristik adalah biasa botol transparan yang tidak jernih atau berawan. Cari simbol ini bila membeli barang berbahan plastik.
6. PS (polystyrene) biasa dipakai sebagai bahan tempat makan styrofoam, tempat minum sekali pakai, dll. Bahan Polystyrene bisa membocorkan bahan styrine ke dalam makanan kPolystyrene foam containers are a common nuisance worldwide: they cause pollution in their production, they are a waste of resources since they are used only once, they don’t biodegrade for hundreds of years, and they release toxic gases when burned. The styrene may even be a health concern as it can leach out of the packaging and into human fat tissue.etika makanan tersebut bersentuhan. Bahan Styrine berbahaya untuk otak dan sistem syaraf. Selain tempat makanan, styrine juga bisa didapatkan dari asap rokok, asap kendaraan dan bahan konstruksi gedung. Bahan ini harus dihindari dan banyak negara bagian di Amerika sudah melarang pemakaian tempat makanan berbahan styrofoam termasuk negara China.
7. Other (biasanya polycarbonate) bisa didapatkan di tempat makanan dan minuman seperti botol minum olahraga. Polycarbonate bisa mengeluarkan bahan utamanya yaitu Bisphenol-A ke dalam makanan dan minuman yang berpotensi merusak sistem hormon. Hindari bahan plastik Polycarbonate.
Masih banyak sekali barang plastik yang tidak mencantumkan simbol-simbol ini, terutama barang plastik buatan lokal di Indonesia. Oleh karena itu, kalau anda ragu lebih baik tidak membeli. Kalaupun barang bersimbol lebih mahal, harga tersebut lebih berharga dibandingkan kesehatan keluarga kita.
Pada akhirnya. Hindari penggunaan plastik apapun di Microwave. Gunakan bahan keramik, gelas atau pyrex sebagai gantinya.
Hindari juga membuang sampah plastik terutama yang mengandung Bisphenol-A sembarangan karena bahan tersebut pun bisa mencemari air tanah yang pada akhirnya pun bisa mencemari air minum banyak orang.
Sumber : http://elits38.wordpress.com dan Dari berbagai sumber.

Selasa, 29 Mei 2012

MAKALAH PENYAKIT CAMPAK



BAB I
PENDAHULUAN
A.    LATAR BELAKANG
 Campak dalam sejarah anak telah dikenal sebagai pembunuh terbesar, meskipun adanya vaksin telah dikembangkan lebih dari 30 tahun yang lalu, virus campak ini menyerang 50 juta orang setiap tahun dan menyebabkan lebih dari 1 juta kematian. Insiden terbanyak  berhubungan dengan morbiditas dan mortalitas penyakit campak yaitu pada negara berkembang, meskipun masih mengenai beberapa negara maju seperti Amerika Serikat.
        Campak adalah salah satu penyakit infeksi yang dapat dicegah dengan imunisasi dan masih masalah kesehatan di Indonesia. Penyakit ini umumnya menyerang anak umur di bawah lima tahun ( balita ) akan tetapi campak bisa menyerang semua umur. Campak telah banyak diteliti, namun masih banyak terdapat perbedaan pendapat dalam penanganannya. Imunisasi yang tepat pada waktunya dan penanganan sedini mungkin akan mengurangi komplikasi penyakit ini.

B.     RUMUSAN MASALAH
1.      Apa pengertian  campak?
2.      Bagaimana riwayat alamiah dari penyakit campak?
3.      Bagaimana etiologi,dan patofisiologi penyakit campak?
4.      Bagaimana masa inkubasi dan diagnosis penyakit campak?
5.      Bagaimana cara penularan dan pencegahan penyakit campak?
6.      Bagaimana penanggulangan serta pengobatan penyakit campak?


C.     TUJUAN
1.      Untuk mengetahui pengertian  campak.
2.      Untuk mengetahui riwayat alamiah dari penyakit campak.
3.      Untuk mengetahui etiologi, dan patofisiologi penyakit campak.
4.      Untuk mengetahui masa inkubasi dan diagnosis penyakit campak.
5.      Agar kita mengetahui cara penularan dan pencegahan penyakit campak.
6.      Agar kita mengetahui penanggulangan serta pengobatan penyakit campak.




 BAB II
TELAAH PUSTAKA

 2.1  PENGERTIAN

Penyakit campak dikenal juga dengan istilah morbili dalam bahasa latin dan measles dalam bahasa inggris atau dikenal dengan sebutan gabagen (dalam bahasa Jawa) atau kerumut (dalam bahasa Banjar) atau disebut juga rubeola (nama ilmiah) merupakan suatu infeksi virus yang sangat menular, yang di tandai dengan demam, lemas, batuk, konjungtivitas (peradangan selaput ikat mata /konjungtiva) dan bintik merah di kulit (ruam kulit)

Ada beberapa pengertian tentang campak menurut  beberapa ahli, yaitu  :
a.       Campak atau morbili adalah penyakit virus akut , menular yang di tandai  dengan 3 stadium yaitu stadium prodromal (kataral), stadium erupsi dan stadium konvalisensi, yang di manifestasikan dengan demam, konjungtivitis dan bercak koplik (Ilmu Kesehatan Anak Edisi 2, th 1991. FKUI ).
b.      Morbili adalah penyakit anak menular yang lazim biasanya ditandai dengan gejala-gejala utama ringan, ruam serupa dengan campak ringan atau demam, scarlet, pembesaran serta nyeri limpa nadi (Ilmu Kesehatan Anak vol 2, Nelson, EGC,  2000).
c.       Campak adalah penyakit menular yang ditularkan melalui rute udara dari seseorang yang terinfeksi ke orang lain yang rentan (Brunner & Suddart, vol 3, 2001).


 2.2   RIWAYAT ALAMIAH PENYAKIT CAMPAK

Riwayat alamiah penyakit campak melalui tahap-tahap sebagai berikut :

a.        Tahap prepatogenesis
b.       Tahap pathogenesis
c.        Tahap  Akhir/ pasca pathogenesis.


1.       Tahap prepatogenesis

Pada tahap ini individu berada dalam keadaan normal/ sehat tetapi mereka Pada dasarnya peka terhadap kemungkinan terganggu oleh serangan agen Penyakit (stage of susceptibility). Walaupun demikian pada tahap ini sebenarnya telah terjadi interaksi antara pejamu dengan bibit penyakit. Tetapi interaksi ini masih terjadi di luar tubuh, dalam arti bibit penyakit masih ada diluar tubuh pejamu dimana para kuman mengembangkan potensi infektifitas, siap menyerang pejamu. Pada tahap ini belum ada tanda-tanda sakit sampai sejauh daya tahan tubuh pejamu masih kuat. Namun begitu pejamunya ‘lengah’ ataupun memang bibit penyakit menjadi lebih ganas ditambah dengan kondisi lingkungan yang kurang menguntungkan pejamu, maka keadaan segera dapat berubah. Penyakit akan melanjutkan perjalanannya memasuki fase berikutnya, tahap pathogenesis.

2.      Tahap pathogenesis

Tahap ini meliputi 4 sub-tahap yaitu : - Tahap Inkubasi, - Tahap Dini, - Tahap
Lanjut, dan –Tahap Akhir.

·     Tahap Inkubasi

Masa inkubasi dari penyakit campak adalah 10-20 hari. Pada tahap
Ini individu masih belum merasakan bahwa dirinya sakit.

·     Tahap Dini
 Mulai timbulnya gejala dalam waktu 7-14 hari setelah infeksi, yaitu Berupa :
*      Panas badan
*      Nyeri tenggorokan
*      Hidung meler (coryza)
*      Batuk (cough)
*      Bercak koplik
*      Nyeri otot
*      Mata merah (conjunctivitis)
·     Tahap Lanjut

      Munculnya ruam-ruam kulit  yang berwarna merah bata dari mulai Kecil-kecil dan jarang kemudian menjadi banyak dan menyatu Seperti pulau-pulau. Ruam umumnya muncul pertama dari daerah wajah dan tengkuk, dan segera menjalar menuju dada, punggung, perut serta terakhir kaki-tangan. Pada saat ruam ini muncul, panas si anak mencapai puncaknya (bisa mencapai 40C), ingus semakin banyak, hidung semakin mampat, tenggorokan semakin sakit dan batuk-batuk kering dan juga disertai mata merah.

3.       Tahap akhir/ pasca pathogenesis

Berakhirnya perjalanan penyakit campak. Dapat berada dalam lima pilihan keadaan, yaitu :

*      Sembuh sempurna, yakni bibit penyakit menghilang dan tubuh menjadi pulih, sehat kembali.
*      Sembuh dengan cacat, yakni bibit penyakit menghilang, penyakit sudah tidak ada, tetapi tubuh tidak pulih sepenuhnya, meninggalkan bekas gangguan yang permanen berupa cacat.
*      Carrier, dimana tubuh penderita pulih kembali, namun penyakit masih tetap ada dalam tubuh tanpa memperlihatkan gangguan penyakit.
*      Penyakit tetap berlangsung kronik.
*      Berakhir dengan kematian.


2.3  ETIOLOGI  DAN  PATOFISIOLOGI  PENYAKIT CAMPAK

1.      ETIOLOGI

Penyakit campak disebabkan oleh virus campak yang termasuk golongan paramyxovirus genus morbilivirus merupakan salah satu virus RNA. Virus ini terdapat dalam darah dan secret (cairan)nasofaring (jaringan antara tenggorokan dan hidung) pada masa gejala awal (prodromal) hingga 24 jam setelah timbulnya bercak merah di kulit dan selaput lendir.                        
1.1      Bentuk virus

Virus berbentuk bulat dengan tepi kasar dan bergaris tengah 140 nm dan di bungkus oleh selubung luar yang terdiri dari lemak dan protein. Di dalamnya terdapat nukleokapsid yang bulat lonjong terdiri dari bagian protein yang mengelilingi asam nukleat (RNA ), merupakan struktur heliks nucleoprotein dari myxovirus. Selubung luar sering menunjukkan tonjolan pendek, satu protein yang berada di selubung luar muncul sebagai hemaglutinin.

1.2      Ketahanan virus

Pada temperature kamar virus campak kehilangan 60 % sifat infeksifitasnya selama 3-5 hari pada 37oC waktu paruh umurnya 2 jam, pada 56oC hanya satu jam. Pada media protein ia dapat hidup dengan suhu -70oC selama 5,5 tahun, sedangkan dalam lemari pendingin dengan suhu 4- 6oC dapat hidup selama 5 bulan. Virus tidak aktif pada PH asam. Oleh karena selubung luarnya terdiri dari lemak maka ia termasuk mikroorganisme yang bersifat ether labile, pada suhu kamar dapat mati dalam 20 % ether selama 10 menit dan 50% aseton dalam 30 menit. Dalam 1/4000 formalin menjadi tidak efektif selama 5 hari, tetapi tidak kehilangan antigenitasnya. Tripsin mempercepat hilangnya potensi antigenik.
           
1.3      Struktur Antigenik

Infeksi dengan virus campak merangsang pembentukkan neutralizing antibody, complement fixing antibody, dan haemagglutinine inhibition antibody.  Imunoglobulin kelas IgM dan IgG muncul bersama-sama diperkirakan 12 hari setelah infeksi dan mencapai titer tertinggi sekitar 21 hari. Kemudian IgM menghilang dengan cepat sedangkan IgG tinggal tidak terbatas dan jumlahnya terukur, sehingga IgG menunjukkan bahwa pernah terkena infeksi walaupun sudah lama. Antibodi protektif dapat terbentuk dengan penyuntikan antigen haemagglutinin murni.

2.      PATOFISIOLOGI

Penularan terjadi secara droplet dan kontak virus ini melalui saluran pernafasan dan masuk ke system retikulo endothelial, berkembang biak dan selanjutnya menyebar ke seluruh tubuh. Hal tersebut akan menimbulkan gejala pada saluran pernafasan, saluran cerna, konjungtiva dan disusul dengan gejala patoknomi berupa bercak koplik dan ruam kulit. Antibodi yang terbentuk berperan dalam timbulnya ruam pada kulit dan netralisasi virus dalam sirkulasi. Mekanisme imunologi seluler juga ikut berperan dalam eliminasi virus.

2.4   MASA INKUBASI DAN DIAGNOSIS  PENYAKIT CAMPAK

1.      Masa inkubasi

Masa tunas/ inkubasi penyakit berlangsung kurang lebih 10 – 20 hari dan kemudian timbul gejala-gejala yang di bagi dalam 3 stadium, yaitu :

1.        Stadium Kataral atau Prodromal

Biasanya berlangsung 4-5 hari, ditandai dengan panas, lesu, batuk-batuk dan mata merah. Pada akhir stadium, kadang-kadang timbul bercak Koplik`s (Koplik spot) pada mukosa pipi/daerah mulut, tetapi gejala khas ini tidak selalu dijumpai. Bercak Koplik ini berupa bercak putih kelabu, besarnya seujung jarum pentul yang dikelilingi daerah kemerahan. Koplik spot ini menentukan suatu diagnose pasti terhadap penyakit campak.
2.        Stadium Erupsi

Batuk pilek bertambah, suhu badan meningkat oleh karena panas tinggi, kadan-kadang anak kejang-kejang, disusul timbulnya rash (bercak merah yang spesifik), timbul setelah 3 – 7 hari demam. Rash timbul secara khusus yaitu mulai timbul di daerah belakang telinga, tengkuk, kemudian pipi, menjalar keseluruh muka, dan akhirnya ke badan. Timbul rasa gatal dan muka bengkak
3.        Stadium Konvalensi atau penyembuhan

Erupsi (bercak-bercak) berkurang, meninggalkan bekas kecoklatan yang disebut hiperpigmentation, tetapi lama-lama akan hilang sendiri. panas badan menurun sampai normal bila tidak terjadi komplikasi.

      3.1.    Komplikasi Penyakit Campak

Adapun komplikasi yang terjadi disebabkan oleh adanya penurunan daya tahan tubuh secara umum sehingga mudah terjadi infeksi tumpangan. Hal yang tidak diinginkan. adalah terjadinya komplikasi karena dapat mengakibatkan kematian pada balita, keadaan inilah yang menyebabkan mudahnya terjadi komplikasi sekunder seperti : Otitis media akut, Ensefalitis, Bronchopneumonia, dan Enteritis

*      Bronchopneumonia

Bronchopneumonia dapat terjadi apabila virus Campak menyerang epitel saluran pernafasan sehingga terjadi peradangan disebut radang paru-paru atau Pneumonia. Bronchopneumonia dapat disebabkan virus Campak sendiri atau oleh Pneumococcus, Streptococcus, dan Staphylococcus yang menyerang epitel pada saluran pernafasan maka Bronchopneumonia ini dapat menyebabkan kematian bayi yang masih muda, anak dengan kurang kalori protein.

*      Otitis Media Akut

Otitis media akut dapat disebabkan invasi virus Campak ke dalam telinga tengah. Gendang telinga biasanya hyperemia pada fase prodormal dan stadium erupsi. Jika terjadi invasi bakteri pada lapisan sel mukosa yang rusak karena invasi virus terjadi otitis media purulenta.

*      Ensefalitis

Ensefalitis adalah komplikasi neurologic yang paling jarang terjadi, biasanya terjadi pada hari ke 4 – 7 setelah terjadinya ruam. Kejadian ensefalitis sekitar 1 dalam 1.000 kasus Campak, dengan CFR berkisar antara 30 – 40%. Terjadinya Ensefalitis dapat melalui mekanisme imunologik maupun melalui invasi langsung virus Campak ke dalam otak

*      Enteritis

`     Enteritis terdapat pada beberapa anak yang menderita Campak, penderita mengalami muntah mencret pada fase prodormal. Keadaan ini akibat invasi virus ke dalam sel mukosa usus.

2.        Diagnosis penyakit campak
          
Diagnosis dapat di tegakkan dengan :
·         anamnese (berdasarkan riwayat timbulnya penyakit seperti adanya
                      kontak dengan penderita)yaitu :
1.Anak dengan panas 3-5 hari (biasanya tinggi,mendadak) batuk
   Pilek, harus dicurigai atau di diagnosis banding morbili (artinya
                       kemungkinan penyakit lain yang mirip campak, misal : german
.                     measles,eksentema subitum,infeksi virus lain).
2. Mata merah, mukopurulen, menambah kecurigaan.
3. Dapat disertai diare dan muntah.
4. Dapat disertai gejala perdarahan (pada kasus yang berat) :
    Epitaksis, petekie, ekimosis.            
5. Anak resiko tinggi adalah bila kontak dengan penderita morbili
   (1 atau 2 minggu sebelumnya) dan belum pernah vaksinasi
    Campak.

·         Gejala klinis
Meliputi pemeriksaan fisik (physic diagnostic ) yaitu :
1.      Pada stadium kataral manifestasi yang tampak mungkin hanya           demam ( biasanya tinggi ) dan tanda-tanda nasofaringitis dan konjungtivitis.
2.      Pada umumnya anak tampak lemah  
3.      Koplik spot pada hari ke 2-3 panas ( akhir stadium kataral )    
4.      Pada stadium erupsi timbul ruam ( rash ) yang khas : ruam makulopapular yang munculnya mulai dari belakang telinga, mengikuti pertumbuhan rambut di dahi, muka dan kemudian ke seluruh tubuh.
·          Pemeriksaan laboratorium
                                     Meliputi :
1.      Pemeriksaan darah tepi hanya ditemukan adanya leukopeni, Dimana jumlah leukosit cenderung menurun disertai limfositosis relative.
2.      Pemeriksaan serologic dengan cara hemaglutination inhibition test dan complement fiksatior test akan ditemukan adanya antibody yang spesifik dalam 1-3 hari setelah timbulnya ras dan puncaknya pada 2-4 minggu kemudian.
·          Biakan virus ( mahal )
Isolasi dan identifikasi virus : Swab nasofaring dan sampel darah yang diambil dari pasien 2-3 hari sebelum onset gejala sampai 1 hari setelah timbulnya ruam kulit (terutama selama masa demam campak) merupakan sumber yang memadai untuk isolasi virus. selama stadium prodromal, dapat terlihat sel raksasa berinti banyak  pada hapusan mukosa hidung.
                

2.5    CARA PENULARAN  DAN  PENCEGAHAN  PENYAKIT CAMPAK

1.  Cara Penularan

Cara penularan penyakit ini adalah melalui droplet dan kontak, yakni karena menghirup
Percikan ludah (droplet) dari hidung, mulut maupun  tenggorokan penderita morbili atau campak. Artinya seseorang dapat tertular campak bila menghirup virus morbili, bisa di tempat umum, di kendaraan atau dimana saja.  Penderita bisa menularkan infeksi ini dalam waktu 2-4 hari sebelum timbulnya ruam kulit dan selama ruam kulit ada. Masa inkubasi adalah 10-14 hari sebelum gejala muncul.
Sebelum vaksinasi campak digunakan secara meluas, wabah campak terjadi setiap 2-3 tahun, terutama pada anak usia pra- sekolah dan anak-anak SD. Jika seseorang pernah menderita campak, maka seumur hidupnya dia akan kebal terhadap penyakit ini. Kekebalan terhadap campak diperoleh setelah vaksinasi, infeksi aktif dan kekebalan pasif pada seorang bayi yang lahirdari ibu yang telah kebal (berlangsung selama 1 tahun).
Orang-orang yang rentan terhadap campak adalah :
§         Bayi berumur lebih dari 1 tahun
§         Bayi yang tidak mendapatkan imunisasi
§         Remaja dan dewasa muda yang belum mendapatkan imunisasi kedua.


2.     Cara Pencegahan Penyakit Campak

a.      Pencegahan Primordial

Pencegahan primordial dilakukan dalam mencegah munculnya factor predisposisi/ resiko terhadap penyakit Campak. Sasaran dari pencegahan primordial adalah anak-anak yang masih sehat dan belum memiliki resiko yang tinggi agar tidak memiliki faktor resiko yang tinggi untuk penyakit Campak.  Edukasi kepada orang tua anak sangat penting peranannya dalam upaya pencegahan  primordial. Tindakan yang perlu dilakukan seperti  penyuluhan mengenai pendidikan kesehatan,  konselling nutrisi dan penataan rumah yang baik.

b.      Pencegahan Primer

Sasaran dari pencegahan primer adalah orang-orang yang termasuk kelompok beresiko, yakni anak yang belum terkena Campak, tetapi berpotensi untuk terkena penyakit Campak. Pada pencegahan primer ini harus mengenal faktor-faktor yang berpengaruh terhadap terjadinya Campak dan upaya untuk mengeliminasi faktor-faktor tersebut.
.
        
       b.1.   Penyuluhan

Edukasi Campak adalah pendidikan dan latihan mengenai pengetahuan mengenai Campak. Disamping kepada penderita Campak, edukasi juga diberikan kepada anggota keluarganya, kelompok masyarakat beresiko tinggi dan pihak-pihak perencana kebijakan kesehatan. Berbagai materi yang perlu diberikan kepada pasien campak adalah definisi penyakit Campak, faktor-faktor yang berpengaruh pada timbulnya campak dan upaya-upaya menekan campak, pengelolaan Campak secara umum, pencegahan dan pengenalan komplikasi Campak

       b.2. Imunisasi

Di Indonesia sampai saat ini pencegahan penyakit campak dilakukan dengan vaksinasi  Campak secara rutin yaitu diberikan pada bayi berumur 9 – 15 bulan. Vaksin yang digunakan adalah Schwarz vaccine  yaitu vaksin hidup yang dioleh menjadi lemah. Vaksin ini diberikan secara subkutan sebanyak 0,5 ml. vaksin campak tidak boleh diberikan pada wanita hamil, anak dengan TBC yang tidak diobati, penderita leukemia. Vaksin Campak dapat diberikan sebagai vaksin monovalen atau polivalen yaitu vaksin measles-mumps-rubella (MMR).  vaksin monovalen diberikan pada bayi usia 9 bulan,  sedangkan vaksin polivalen diberikan pada anak usia 15 bulan.  Penting diperhatikan penyimpanan dan transportasi vaksin harus pada temperature antara 2ºC - 8ºC atau ± 4ºC, vaksin tersebut harus dihindarkan dari sinar matahari.  Mudah rusak oleh zat pengawet atau bahan kimia dan setelah dibuka hanya tahan 4 jam.

Dimana imunisasi ini terbagi atas 2 yaitu :

1.     Imunisasi aktif
          Pencegahan  campak  dilakukan dengan  pemberian  imunisasi aktif  pada  bayi  berumur  9  bulan  atau  lebih.  Pada  tahun 1963  telah  dibuat dua  macam  vaksin campak,  yaitu  (1)  vaksin  yang  berasal  dari  virus campak  hidup  yang  dilemahkan (tipe Edmonstone B), dan (2)  vaksin  yang   berasal dari  virus  campak  yang  dimatikan  (dalam  larutan  formalin  dicampur  dengan  garam  alumunium).  Namun  sejak  tahun 1967,  vaksin  yang  berasal  dari  virus  campak  yang  telah  dimatikan  tidak digunakan  lagi,  oleh  karena  efek  proteksinya  hanya  bersifat  sementara dan dapat menimbulkan gejala  atypical  measles   yang  hebat.  Vaksin  yang  berasal  dari  virus  campak  yang  dilemahkan berkembang dari Edmonstone strain menjadi strain Schwarz (1965) dan kemudian menjadi strais  Moraten (1968). Dosis baku minimal  pemberian  vaksin  campak yang dilemahkan adalah 0,5 ml, secara subkutan,namun dilaporkan bahwa pemberian secara intramuskular mempunyai efektivitas yang sama. Vaksin ini biasanya diberikan dalam bentuk kombinasi  denganondongan  dan  campak  Jerman (vaksin MMR/mumps, measles, rubella), disuntikkan pada otot paha  atau  lengan  atas. Jika hanya  mengandung campak vaksin diberikan  pada umur 9 bulan. Dalam  bentuk  MMR, dosis  pertama  diberikan  pada  usia 12-15 bulan, dosis  kedua diberikan  pada  usia  4-6  tahun.

          Vaksin campak sering dipakai bersama-sama dengan vaksin rubela dan parotitis epidemika yang dilemahkan, vaksin polio oral, difteri-tetanus-polio vaksin dan lain-lain. Laporan beberapa peneliti menyatakan bahwa kombinasi tersebut pada umumnya aman dan tetap efektif.



2.     Imunisasi pasif
Imunisasi pasif dengan kumpulan serum orang dewasa, kumpulan serum konvalesens, globulin plasenta atau gamma globulin kumpulan plasma adalah efektif untuk pencegahan dan pelemahan campak. Campak dapat dicegah dengan Immune serum globulin (gamma globulin) dengan dosis 0,25 ml/kgBB intramuskuler, maksimal 15 ml dalam waktu 5 hari sesudah terpapar, atau sesegera mungkin. Perlindungan yang sempurna diindikasikan untuk bayi, anak-anak dengan penyakit kronis, dan para kontak di bangsal rumah sakit serta institusi penampungan anak. Setelah hari ke 7-8 dari masa inkubasi, maka jumlah antibodi yang diberikan harus ditingkatkan untuk mendapatkan derajat perlindungan yang diharapkan.Kontraindikasi vaksin : reaksi anafilaksis terhadap neomisin atau gelatin, kehamilan imunodefisiensi (keganasan hematologi atau tumor padat, imunodefisiensi kongenital, terapi imunosupresan jangka panjang, infeksi HIV dengan imunosupresi berat.

        b .3.  Isolasi
      
Penderita rentan menghindari kontak dengan seseorang yang terkena penyakit            campak dalam kurun waktu 20-30 hari, demikian pula bagi penderita campak             untuk diisolasi selama 20-30 hari guna menghindari penularan lingkungan             sekitar.

c.       Pencegahan Sekunder

Pencegahan sekunder adalah  upaya  untuk  mencegah  atau menghambat timbulnya  komplikasi dengan  tindakan-tindakan seperti  tes  penyaringan  yang ditujukan untuk pendeteksian dini  campak serta  penanganan segera dan  efektif. Tujuan  utama  kegiatan-kegiatan  pencegahan  sekunder adalah  untuk mengidentifikasi orang-orang tanpa  gejala  yang  telah sakit atau  penderita yang beresiko  tinggi untuk mengembangkan  atau memperparah  penyakit. Memberikan pengobatan  penyakit sejak awal  sedapat mungkin dilakukan untuk mencegah kemungkinan terjadinya  komplikasi. Edukasi dan pengelolaan campak  memegang peran  penting untuk  meningkatkan kepatuhan pasien  berobat.
d.      Pencegahan Tersier

Pencegahan tersier adalah semua upaya untuk mencegah kecacatan akibat  komplikasi. Kegiatan  yang dilakukan  antara  lain  mencegah  perubahan dari  komplikasi menjadi kecatatan tubuh dan melakukan rehabilitasi sedini mungkin  bagi penderita yang mengalami kecacatan. Dalam upaya ini diperlukan  kerjasama yang baik antara pasien-pasien dengan dokter maupun antara dokter-dokter yang terkait dengan komplikasinya. Penyuluhan juga sangat dibutuhkan  untuk  meningkatkan motivasi pasien untuk mengendalikan penyakit  campak.  Dalam  penyuluhan  ini hal  yang dilakukan adalah :

d.1.  Maksud, tujuan, dan cara pengobatan komplikasi kronik

d.2. Upaya rehabilitasi yang dapat dilakukan

d.3. Kesabaran  dan  ketakwaan untuk dapat menerima dan  memanfaatkan   keadaan  hidup dengan  komplikasi kronik.

Pelayanan kesehatan yang holistik dan terintegrasi  antar disiplin  terkait juga sangat diperlukan,  terutama di rumah sakit rujukan, baik dengan para ahli sesama  ilmu.

2.6   PENANGGGULANGAN  DAN  PENGOBATAN  PENYAKIT CAMPAK

1.      Penanggulangan Campak

Pada  sidang  CDC/ PAHO / WHO, tahun 1996  menyimpulkan  bahwa  penyakit Campak dapat dieradikasi,  karena  satu-satunya  pejamu/ reservoir  campak hanya pada manusia serta tersedia vaksin dengan  potensi  yang  cukup  tinggi  yaitu  effikasi  vaksin  85%  dan  dirperkirakan eradikasi dapat dicapai 10 – 15 tahun  setelah  eliminasi.
World  Health  Organisation (WHO)  mencanangkan  beberapa tahapan dalam upaya eradikasi (pemberantasan)  penyakit Campak dengan  tekanan strategi  yang berbeda-beda  pada  setiap  tahap  yaitu :

a.       Tahap Reduksi

Tahap ini dibagi dalam 2 tahap :

 1. Tahap Pengendalian Campak

Pada  tahap  ini ditandai  dengan  upaya  peningkatan  cakupan  imunisasi  campak rutin dan upaya  imunisasi  tambahan di daerah dengan morbitas  campak  yang tinggi.  Daerah  ini  masih  merupakan  daerah  endemis campak, tetapi  telah terjadi penurunan insiden dan  kematian, dengan pola epidemiologi kasus Campak menunjukkan 2 puncak setiap tahun.


2        Tahap Pencegahan KLB

Cakupan imunisasi dapat dipertahankan tinggi ≥ 80% dan merata,terjadi penurunan  tajam kasus dan kematian, insidens campak telah bergeser kepada umur yang lebih  tua, dengan interval KLB antara 4-8 tahun.

b.      Tahap Eliminasi

Cakupan imunisasi sangat tinggi ≥ 95% dan daerah-daerah dengan cakupan imunisasi  rendah sudah  sangat  kecil  jumlahnya,  kasus campak sudah sangat jarang  dan  KLB  hampir tidak pernah terjadi. Anak-anak yang dicurigai rentan (tidak terlindung) harus diselidiki dan diberikan imunisasi campak.

c.       Tahap Eradikasi

Cakupan imunisasi sangat tinggi dan merata, serta kasus Campak sudah tidak ditemukan.

Pada siding The World Health Assambley (WHA) tahun 1998, menetapkan kesepakatan Eradikasi Polio (ERAPO), Eliminasi Tetanus Noenatorum (ETN)  dan Reduksi Campak (RECAM). Kemudian pada Technical Consultative Groups (TGC) Meeting di Dakka Bangladesh tahun 1999, menetapkan bahwa reduksi campak di Indonesia berada pada tahap reduksi dengan pencegahan Kejadian Luar Biasa (KLB).
Strategi operasional yang dilakukan ditingkat Puskesmas untuk mencapai reduksi Campak tersebut adalah :

a.         Imunisasi rutin pada bayi 9 –11 bulan (UCI Desa ≥ 80)

b.         Imunisasi tambahan (suplemen)

b.1  Catch up compaign : memberikan imunisasi Campak sekali saja pada anak                            SD  kelas 1 s/d 6 tanpa memandang status imunisasi.

b.2  Selanjutnya untuk tahun berikutnya secara rutin diberikan imunisasi campak pada murid kelas 1 SD (bersama dengan pemberian DT) pelaksanaan secara rutin dikenal dengan istilah BIAS (bulan imunisasi anak sekolah) Campak. Tujuannya adalah mencegah KLB pada anak  sekolah dan memutuskan rantai penularan dari anak sekolah kepada  balita.

b.3   Crash  program  Campak :  memberikan  imunisasi Campak  pada   anak umur 6  bulan - > 5 tahun  tanpa  melihat  status  imunisasi di daerah risiko tinggi campak.

b.4    Ring vaksinasi :  Imunisasi  Campak  diberikan dilokasi  pemukiman di  sekitar lokasi  KLB  dengan  umur  sasaran  6 bulan  (umur kasus campak termuda) tanpa melihat  status  imunisasi.

c.         Surveilans (surveilan rutin, system kewaspadaan dini dan respon kejadian luar biasa).

d.        Penyelidikan dan penanggulangan kejadian luar biasa Setiap kejadian luar biasa harus diselidiki dan dilakukan penanggulangan secepatnya yang meliputi pengobatan simtomatis pada kasus, pengobatan dengan antibiotika bila terjadi komplikasi, pemberian vitamin A dosis tinggi, perbaikan gizi dan meningkatkan cakupan  imunisasi campak/ring vaksinasi (program cepat, sweeping) pada desa-desa risiko tinggi.
e.         Pemeriksaan laboratorium
Pada  tahap  reduksi  Campak dengan pencegahan kejadian luar biasa :
ü      Pemeriksaan  laboratorium  dilakukan  terhadap 10 – 15  kasus baru pada  setiap kejadian  luar  biasa.
ü      Pemantauan  kegiatan  reduksi Campak pada tingkat Puskesmas dilakukan dengan cara kenaikan sebagai berikut :
1.      Pemantauan Wilayah Setempat (PWS) Imunisasi untuk mengetahui pencapaian cakupan imunisasi.
2.      Pemetaan kasus Campak untuk mengetahui penyebaran lokasi kasus Campak.
3.      Pemantauan data kasus campak untuk melihat kecenderungan kenaikan kasus campak menurut waktu dan tempat.
4.      Pemantauan kecenderungan jumlah kasus campak yang ada untuk melihat dampak imunisasi campak.

Evaluasi kegiatan reduksi campak dilakukan dengan menggunakan beberapa indikator  yaitu :

a.       Cakupan imunisasi tingkat desa/kelurahan. Apakah cakupan imunsasi campak sudah > 90 %.
b.  Jumlah kasus Campak (laporan W2). Diharapkan  kelengkapan laporan W2> 90 %.
c. Indikator manajemen kasus campak dengan kecepatan rujukan. Diharapkan       CFR < 3%.   
d.      Indikator tindak lanjut hasil penyelidikan. Dimana cakupan sweeping hasil Imunisasi di daerah potensial KLB > 90 %, dan cakupan sweeping vitamin A dosis tinggi > 90 %.
  
2.      Pengobatan Penyakit Campak
               Penderita Campak tanpa komplikasi dapat berobat jalan.Sehingga pengobatannya bersifat symptomatic, yaitu memperbaiki keadaan umum atau untuk mengurangi gejalanya saja dalam hal ini :
Ø      anak memerlukan istirahat di tempat tidur
Ø      kompres dengan air hangat bila demam tinggi namun dapat diberikan antipiretik bila suhu tinggi parasetamol 7,5-10 mg/kgBB/kali, interval 6-8 jam
Ø       ekspektoran : gliseril guaiakolat anak 6-12 tahun : 50-100 mg tiap 2-6 jam, dosis maksimum 600 mg/hari.
Ø       Antitusif perlu diberikan bila batuknya  hebat/mengganggu
Ø      narcotic antitussive (codein) tidak boleh digunakan.
Ø      Mukolitik bila perlu.vitamin terutama vitamin A dan C. Vitamin A pada stadium kataral sangat bermanfaat. Pemberian vitamin A 100.000 IU per oral satu kali.  Vitamin A dosis tinggi ( menurut rekomendasi  WHO dan UNICEF)
Usia 6 bln-1 thn :100.000 unit dosis tunggal p.o
Umur > 1 thn : 200.000 unit dosis tunggal p.o
Dosis tersebut diulangi pada hari ke-2 dan 4 minggu kemudian bila telah didapat tanda defisiensi vitamin A.  Apabila terdapat malnutrisi maka pemberian vitamin A ditambah dengan 1500 IU  tiap hari.
Ø      Mempertahankan status nutrisi dan hidrasi (cukup cairan dan kalori)

Dan bila terdapat komplikasi, maka dilakukan pengobatan untuk mengatasi komplikasi yang timbul seperti :
*      Otitis media akut, sering kali disebabkan oleh karena infeksi sekunder, maka perlu mendapat antibiotik kotrimoksazol-sulfametokzasol.
*      Ensefalitis, perlu direduksi jumlah pemberian cairan ¾ kebutuhan untuk mengurangi edema otak, di samping pemberian kortikosteroid dosis tinggi yaitu :
·         Hidrokostison 100 – 200 mg/hari selama 3 – 4 hari.
·          Prednison 2 mg/kgBB/hari untuk jangka waktu 1 minggu., perlu dilakukan koreksi elektrolit dan ganguan gas darah.
*      Bronchopneumonia, diberikan antibiotik ampisilin 100 mg/kgBB/hari dalam 4 dosis, sampai gejala sesak berkurang dan pasien dapat minum obat per oral. Antibiotik diberikan sampai tiga hari demam reda.
*      Enteritis, pada keadaan berat anak mudah dehidrasi. Pemberian cairan intravena dapat dipertimbangkan apabila terdapat enteritis dengan dehidrasi




BAB III
HASIL DAN PEMBAHASAN
             
A.           HASIL

            Pengumpulan data dilakukan melalui pemeriksaan klinis penderita campak, dan pengambilan serum darah untuk pemeriksaan IgM campak serta pemeriksaan protein albumin  dalam serum darah. Selama 6 bulan dilakukan pengamatan terhadap 21 anak yang menderita campak dan 21 anak yang tidak menderita campak sebagai kontrol. Berdasarkan hasil pemeriksaan laboratorium dari 21 serum darah responden dengan gejala klinis campak didapatkan hasil IgM campak negatif pada semua responden. Karena gejala klinis  penyakit campak ini menyerupai gejala klinis Rubela, maka peneliti mengadakan pemeriksaan  laboratorium yang dilanjutkan pada pemeriksaan IgM Rubela. Pada 21 serum darah  responden, didapatkan IgM Rubela positif sebanyak 9 responden.

Tabel 2. Diskripsi Jenis Kelamin, Umur, Kadar Albumin dan Frekuensi Kejadian Infeksi
Status responden
campak
Tidak campak
total
N
%
n
%

Jenis kelamin : laki – laki
                        perempuan
13
8

6
3

12
9
5
4

25
17
Umur              : 1-5 tahun
                         6-10 tahun
                         11-14 tahun
5
9
7
2
4
3
0
8
13
0
3
6
5
17
20
Status gizi      : baik
                        Lebih
5
15
2
7

4
17
1
8
1
10
32
Frekuensi infeksi : <3 x / 3 bulan
                              ≥ 3 x / 3 bulan
0
21
0
100
5
16
2
7

22
20


      Hasil analisis deskriptif untuk jenis kelamin, umur, kadar albumin dan frekuensi kejadian infeksi dalam 3 bulan terakhir (januari-juni 2008) dikota Kediri dapat dilihat pada tabel 2. Dari tabel tersebut terlihat bahwa sebagian besar penderita campak adalah laki-laki (62 %). Sebagian besar penderita campak (81%) mempunyai kadar albumin lebih.
 Gambar 1 menampilkan kadar albumin lebih dan normal menurut jenis kelamin.
AL BUMI N

      Gambar 1 Kadar Albumin menurut jenis kelamin anak yang terserang campak
     
      Frekuensi terjadinya infeksi pada anak yang menderita campak dan tidak menderita campak menurut jenis kelamin dan umur dapat dilihat  pada table 3, yang menunjukkan bahwa 42 (100 %) anak pernah menderita infeksi saluran pernapasan akut (ISPA) pada 3 bulan terakhir dan tidak ada (0%) responden yang menderita Dengue Hemoragie Fever (DHF). Tampak pula bahwa gejala klinis TBC pernah dialami oleh 21 (50%) responden.







      Tabel 3. Frekuensi Kejadian Penyakit Infeksi pada infeksi Anak 1-14 tahun


      Hasil uji chi square ( table 4) menunjukkan bahwa tidak ada hubungan antara status gizi dengan gejala klinis campak (p =1,00). Hasil uji square (table 5) menunjukkan bahwa ada hubungan antara frekuensi kejadian infeksi dengan gejala klinis campak (p=0,048). Besarnya resiko gejala klinis campak pada anak yang sering mengalami infeksi adalah dua kali lipat jika dibandingkan dengan anak yang tidak sering mendapatkan infeksi.

      Tabel 4. Hubungan Antara Status Gizi Dengan Gejala Klinis Campak
Status Gizi
Campak
Tidak Campak
Total
Baik
5,(23,8%)
4(19,2%)
9,(21,4%)
Lebih
16(76,2%)
17(81,0%)
33,(78,6%)
Total
21(100%)
21(100%)
42(100%)
      P = 1,00                 OR = 0,753         95% CI =0,171-3,312

      Tabel 5. Hubungan Antara Frekuensi Kejadian Infeksi Dengan Kejadian Klinis Campak.
Status Gizi
Campak
Tidak Campak
Total
Sering
21 (100%)
16 (6,2%)
37 (88,1%)
Tidak sering
0 (0%)
5 (23,8%)
5 (11,9%)
Total
21 (100%
21 (100%)
42 (100%)
      P = 0,048               OR = 2,213          95% CI = 1,599-3,345

A.    Pembahasan

Berdasarkan penelitian yang telah dilakukan melalui serum darah pada 21 responden sebagai kasus dan 21 responden  sebagai responden control. Didapatkan hasil kadar protein serum dengan nilai normal dan protein serum lebih. Hal ini menunjukkan bahwa status gizi pada 42 responden  tersebut  baik. Keadaan ini dapat terjadi karena 80% responden berusia 6-14 tahun, yaitu masa sekolah. Anak usia sekolah memiliki pola makan yang selalu ingin mencoba jenis makanan baru, pemberian makanan dalam bentuk junk food baik di rumah maupun di sekolah. Makanan tersebut banyak mengandung gula, garam, lemak dan kolesterol, dan kebutuhan tinggi kalori pada anak memicu tingginya kadar albumin serum ( Muscari, M,2001 ).
      Hasil  penelitian  menunjukkan  bahwa  tidak ada hubungan antara  status gizi dengan gejala  klinis campak. Hal  ini  menunjukkan  bahwa  status gizi  anak  tidak cukup mampu untuk melawan  infeksi  virus.  Pertahanan  tubuh  terhadap  infeksi virus memerlukan  pertahanan  yang  bersifat  spesifik, sedangkan  protein  serum merupakan pertahan  tubuh  yang  bersifat  non  spesifik. Kekebalan  terhadap  infeksi virus  didasarkan pada  pembentukan  respon   imun  terhadap  antigen  khusus  yang  terletak  pada permukaan partikel  virus  atau sel  yang  terinfeksi oleh virus. Virus akan menimbulkan respon jaringan  yang  berbeda  dari  respon  terhadap  bakteri pathogen. Pada infeksi virus akan  terjadi  infiltrasi  sel  berinti  satu dan limfosit. Protein  yang  disandikan oleh virus, biasanya  protein kapsid, merupakan  sasaran dari respon  imun. Sel  yang  terinveksi  oleh  virus dapat  menjadi  lisis  oleh  limfosit T sitotoksik  yang  mengenali  polipeptida-poipeptida virus  pada  permukaan  sel.  Imunitas  humoral  akan  melindungi  inang  terhadap  infeksi ulang oleh virus yang sama (Jawetz, Melnick, Aldelberg’s, 2001).

      Epidemiologi penyakit Campak

Epidemiologi  penyakit  Campak  mempelajari  tentang  frekuensi,  penyebaran dan faktor-faktor yang  mempengaruhinya.


1.      Distribusi Penyakit Campak

a.       Orang

Campak  adalah  penyakit  menular  yang dapat  menginfeksi anak-anak pada usia dibawah 15  bulan, anak usia sekolah atau remaja.  Penyebaran  penyakit Campak berdasarkan umur berbeda dari satu daerah dengan daerah lain, tergantung  dari kepadatan  penduduknya, terisolasi  atau  tidaknya daerah tersebut. Pada daerah urban yang  berpenduduk  padat transmisi virus  Campak sangat  tinggi.

b.      Tempat

Berdasarkan  tempat  penyebaran  penyakit  Campak  berbeda, dimana daerah  perkotaan siklus epidemi Campak  terjadi  setiap 2-4 tahun  sekali, sedangkan di daerah  pedesaan penyakit Campak jarang  terjadi, tetapi  bila  sewaktu-waktu terdapat  penyakit Campak maka serangan dapat  bersifat wabah dan  menyerang  kelompok umur yang  rentan. Berdasarkan  profil  kesehatan  tahun  2008  terdapat jumlah  kasus  Campak  yaitu 3424 kasus  di Jawa barat, di Banten 1552 kasus, di Jawa tengah 1001 kasus.
c.       Waktu

Dari  hasil  penelitian  retrospektif  oleh  Jusak di rumah sakit umum daerah  Dr. Sutomo Surabaya  pada  tahun 1989, ditemukan Campak di Indonesia sepanjang  tahun, dimana peningkatan   kasus  terjadi  pada  bulan  Maret dan  mencapai  puncak  pada bulan Mei, Agustus, September dan oktober.

2.      Frekuensi Penyakit Campak

Campak merupakan penyakit endemis, terutama di Negara yang sedang berkembang seperti Indonesia. Karena hampir semua anak Indonesia yang mencapai usia 5 tahun pernah terserang penyakit campak, walaupun yang dilaporkan hanya sekitar 30.000 kasus pertahun.

Mortalitas/kematian kasus campak yang dirawat inap di  Rumah Sakit pada tahun 1982 adalah sebesar 73 kasus kematian dengan angka fatalitas kasus atau case fatality rate (CFR) sebesar 4,8%. Kemudian  pada tahun 1984-1988 berdasarkan studi kasus di rawat inap di rumah sakit terjadi peningkatan kasus pada bulan maret,dan mencapai puncak pada bulan mei,agustus,September dan oktober. Dengan menunjukkan proporsi yang terbesar dalam golongan umur balita dengan perincian 17,6% berumur<1 tahun, 15,2% berumur 1 tahun, 20,3% berumur 2 tahun, 12,3% berumur 3 tahun dan 8,2% berumur 4 tahun. Wabah terjadi pada kelompok anak yang rentan terhadap campak,yaitu daerah dengan populasi balita banyak mengidap gizi buruk dan daya tahan tubuh yang lemah serta daerah dengan cakupan imunisasi yang rendah.
Distribusi kelompok umur pada KLB umumnya terjadi pada kelompok umur 1-4 tahun dan 5-9 tahun, dan pada beherapa daerah dengan cakupan imunisasi tinggi dan merata cenderung bergeser pada kelompok umur yang lebih tua (10-I4 tahun)
Selanjutnya kasus campak mengalami penurunan sebesar 80% pada tahun 1996 (16 kematian,CFR 0,6%).

3.      Determinan  Penyakit  Campak

Faktor-faktor yang  menyebabkan  tingginya kasus Campak pada balita di suatu daerah adalah :

a.       Faktor Host

1.      Status Imunisasi

Balita  yang  tidak mendapat  imunisasi Campak  kemungkinan  kena  penyakit Campak sangat  besar.  Dari  hasil penyelidikan tim  Ditjen PPM & PLP dan Fakultas Kedokteran Universitas  Indonesia  tentang  KLB  penyakit  Campak di Desa Cinta Manis Kecamatan Banyuasin Sumatera Selatan (1996) dengan  desain  cross  sectional,  ditemukan  balita yang  tidak  mendapat  imunisasi Campak  mempunyai risiko 5 kali  lebih  besar untuk terkena campak di banding  balita yang mendapat Imunisasi.



2.      Status Gizi

Balita dengan status  gizi  kurang  mempunyai  resiko lebih  tinggi untuk  terkena  penyakit Campak dari  pada  balita dengan  gizi  baik.
Menurut  penelitian  Siregar (2003) di  Bogor, anak  berumur 9  bulan  sampai dengan  6 tahun  yang  status  gizinya  kurang  mempunyai risiko 4,6 kali untuk  terserang  Campak dibanding dengan anak  yang  status  gizinya  baik.

b.      Faktor Agent
Penyebabnya adalah virus morbili yang terdapat dalam secret (cairan) nasofaring(jaringan antara tenggorokan dan hidung) dan darah selama masa prodromal sampai 24 jam setelah timbul bercak-bercak. Virus ini berupa virus RNA yang termasuk famili Paramiksoviridae, genus Morbilivirus.
c.       Faktor Environment
       1.  Keterjangkauan Pelayanan Kesehatan

Desa terpencil, pedalaman, daerah  sulit, daerah yang  tidak  terjangkau  pelayanan kesehatan  khususnya  imunisasi, daerah  ini merupakan  daerah  rawan  terhadap penularan  penyakit Campak

2        tingkat pengetahuan orangtua tentang penyakit campak
 
Tingkat pengetahuan dari orang tua pun sangat penting dalam penyebaran penyakit ini oleh karena itu kita perlu memberikan pengetahuan kepada orang tua tentang penyakit ini, tentang penyebab, serta proses perjalanan dari  penyakit  ini. juga tentang cara pencegahan dan pengobatannya. Dimana kita tahu bahwa tindakan pencegahan yang dapat dilakukan adalah dengan vaksinasi campak dan peningkatan gizi anak agar tidak mudah timbul komplikasi yang berat.




                                                            BAB IV
                                           PENUTUP 

A.    KESIMPULAN

            Campak  ialah penyakit infeksi virus akut, menular, secara epidemiologi merupakan penyebab utama kematian terbesar pada anak. Menurut etiologinya campak disebabkan oleh virus RNA dari family paramixoviridae, genus Morbilivirus , yang ditularkan secara droplet. Gejala klinis campak terdiri dari 3 stadium, yaitu stadium kataral, stadium erupsi dan stadium konvalesensi. Campak dapat dicegah dengan melakukan imunisasi secara aktif, pasif dan isolasi penderita. Serta pada Technical Consultative Groups (TGC) Meeting di Dakka Bangladesh tahun 1999, menetapkan bahwa reduksi campak di Indonesia berada pada tahap reduksi dengan pencegahan Kejadian Luar Biasa (KLB). Pada tahap ini terjadi penurunan kasus dan kematian yang tajam, dan interval terjadinya KLB relative lebih panjang

B.     SARAN

             Kita harus menerapkan pola hidup sehat, utamanya untuk anak dan balita perlu mendapatkan asupan gizi yang cukup sehingga status gizi anak pun menjadi lebih baik. Selalu menjaga kebersihan dengan selalu mencuci tangan anak sebelum makan.
Jika  anak  belum  waktunya  menerima  imunisasi  campak, atau karena hal tertentu dokter menunda pemberian imunisasi campak (MMR), sebaiknya anak tidak berdekatan dengan anak lain atau orang lain yang sedang demam dan jika sudah terkena penyakit ini sebaiknya secepatnya berobat dan jika dalam kondisi yang lebih akut sebaiknya perlu dirujuk ke rumah sakit.

Untuk para orangtua jangan mengabaikan vaksinasi untuk anak  karena anak atau balita yang tidak mendapat imunisasi campak memiliki resiko 5 kali lebih besar untuk terkena penyakit campak dibanding dengan anak atau balita yang mendapat imunisasi.

DAFTAR PUSTAKA

 Brunner & Suddarth, 2001. Keperawatan medikal Bedah. EGC : Jakarta
Donna L. Wong. 2003. Pedoman Klinis Keperawatan Pediatrik. EGC : Jakarta
Kapita selekta Kedokteran Jilid 2, Jakarta: Media Aesculapius.
Nelson. 1999. Ilmu Keperawatan Anak
Nelson, 2000. Ilmu Kesehatan Anak Vol 2. Jakarta. EGC
Ngastiyah. 1997. Perawatan Anak Sakit. Jakarta: EGC.
Rampengan, T. H. 1993. Penyakit Infeksi Tropik pada Anak. Jakarta: EGC.
Staf pengajar Ilmu Kesehatan Anak. 1985. Buku Kuliah 2 Ilmu KEsehatan Anak  FKUI.    Jakarta