Rabu, 10 Oktober 2012

Lahirnya Pembangunan Kesehatan Masyarakat Indonesia

Upaya menggerakkan kesehatan perlu dilaksanakan dengan mengkordinasikan tenaga kesehatan dalam satu wadah pelayanan kesehatan masyarakat yang mampu menimbulkan swadaya masyarakat untuk meningkatkan derajat masyarakat secara optimal. DEKLARASI Alma Ata 1978 yang mencanangkan pembangunan kesehatan masyarakat sebagai strategi untuk mencapai kesehatan bagi semua orang pada tahun 2000, memberi angin segar bagi pendekatan baru bidang kesehatan.

Konferensi Alma Ata yang mengatakan bahwa pembangunan kesehatan masyarakat sekarang mencakup sekurang-kurangnya upaya sebagai berikut, perbaikan gizi, penyediaan air bersih dan sanitasi dasar, kesehatan ibu dan anak termasuk KB, imunisasi terhadap infeksi utama, pencegahan dan pengendalian Endemi setempat, pendidikan masalah kesehatan dan cara-cara mencegah atau mengatasinya, pengobatan yang tepat terhadap penyakit umum serta cedera.

Ciri utama dari pembangunan kesehatan masyarakat membentuk kontak tingkat pertama antara masyarakat dengan sistem pelayanan kesehatan adalah keterlibatan dan peran serta aktif masyarakat membangun kesehatan.

Keterlibatan masyarakat dalam perencanaan pengorganisasian upaya kesehatan termasuk upaya perawatan diri yang pada akhirnya akan menjadi kemandirian masyarakat dalam hal kesehatan. Hal penting lainnya dalam pembangunan kesehatan masyarakat adalah koordinasi lintas sektoral, terutama pada tingkat masyarakat sehingga berbagai sektor pemerintah dapat bekerjasama untuk memenuhi kebutuhan masyarakat.

Asal Mula Pendekatan

Awal sejarah pendekatan kesehatan masyarakat di Indonesia dapat ditelusuri sejak Belanda datang pertama sekali ke Indonesia pada tahun 1596. Perkembangan kesehatan selama pemerintahan Belanda tertutama ditujukan untuk menanggulangi penyakit cacar dan kolera yang sangat ditakuti pada saat itu.

Pada tahun 1851 sebuah sekolah Dokter Jawa didirikan oleh Dokter Bosch. Kepala pelayanan sipil dan militer dan Dokter Bieeker. Sekolah ini kemudian terkenal sebagai STOVIA (School Tot Opleiding Van Indische Atsen) Sekolah untuk pendidikan dokter pribumi. Sesudah STOVIA sekolah dokter kedua didirikan di Surabaya dengan nama NIAS (Nederland Indische Atsen School) pada tahun 1913. Pada tahun 1927 STOVIA menjadi sekolah tinggi kedokteran kedua. Sekolah kedokteran ini bersama sekolah-sekolah lainnya di Indonesia kemudian mempunyai peranan penting dalam pelayanan kesehatan dengan meluluskan dokter-dokter yang dapat memberi pelayanan kuratif dan prepentif.

Pada awal 1970 beberapa sekolah kedokteran mengembangkan dan menerapkan ilmu kedokteran komunitas yang terutama memenuhi kebutuhan kesehatan masyarakat desa.

Dukun Bayi

Kegiatan pelayanan kesehatan pedesaan yang paling dini pada tahun 1807 pada zaman H. W. Daendel ketika para dukun bayi dilatih dalam praktek persalinan. Hal ini merupakan jawaban terhadap angka kematian ibu, bayi sangat tinggi pada masa itu dikarenakan alat persalinan yang dipakai tidak higinis dalam menolong ibu dan bayi selama bersalin, hal ini berlangsung lama dan tidak ada pelatihan bidan. Baru pada tahun 1930 atas anjuran penguasa Belanda, dukun-dukun harus didaftar sebagai penolong dalam perawatan kesehatan ibu dan anak. Pelatihan dukun bayi tentang bersalin baru dimulai setelah kemerdekaan yaitu tahun 1962.

Peralatan

Pada awal tahun 1950 pemerintah melihat pentingnya integrasi peralatan kuratif dan prepentif selalu dibutuhkan oleh petugas kesehatan yang gunanya untuk meningkatkan pelayanan kesehatan melalui usaha swadaya, salah satu pembangunan kesehatan masyarakat adalah diperkenankannya konsep Bandung pada tahun 1951 oleh Dr. J. Leimana dan Dr. Patah yang kemudian dikenal sebagai konsep Patah Leimana. Konsep Bandung ini adalah perpaduan upaya kuratif dan prepentif yang dianggap sebagai dua segi yang tak terpisahkan dari sistem pelayanan kesehatan. Konsep ini juga menekankan kerjasama pemerintah dan masyarakat sebagai salah satu upaya penting dalam pelayanan kesehatan.

Konsep Bandung ini seperti dibayangkan oleh para perencana tidak berjalan mulus, karena tak ada pelatih bagi perawat terlatih diharapkan bekerja sebagai koordinator upaya kuratif dan prepentif. Meskipun tidak dijalankan secara luas, namun konsep Bandung selalu dipakai di desa untuk konsep Puskesmas yang kemudian jadi landasan utama dari kunci program kesehatan masyarakat desa.

Kita masih ingat program pemberantasan Franbasia (Patek) pada tahun 1950-an dirintis beberapa program kesehatan yang memadukan dalam pelayanan kesehatan. Salah satunya adalah program pemberantasan Franbasia yang disusun oleh Dr. Kodiyat (Patungnya ada di Yogyakarta) dengan bantuan WHO dan UNICEF yang dikenal waktu itu TCPS (Trepanonematosis Control Program Simplefied) mengambil langkah pertama menuju pelayanan kesehatan terpadu perdesaan dengan mengirim para perawat serta pembantu mereka ke desa-desa untuk melakukan survey dan mengobati kasus Franbasia di lapangan dengan suntikan Pinisilin dalam minyak.

Sebelum tahun 1950 para bidan memberikan pelayanan dan perawatan Antenatal tidak boleh memberikan pertolongan klinis pada persalinan kemudian pada tahun 1950-an konsep peralatan kesehatan itu mulai dengan mengizinkan bidan melakukan peralatan kehamilan, persalinan dan peralatan pasca bersalin.

Konsep paripurna kesehatan ibu dan anak segera ditempatkan dan disebutkan sampai sekarang BKIA (Balai Kesehatan Ibu dan Anak) dan menjadi KIA yang menolong persatuan ibu pelatihan pelayanan KB. Pada akhir tahun 1960 para bidan menjadi tenaga kesehatan inti di Puskesmas.

Pada saat ini ada tingkat Akademi Kebidanan (D III) dalam proyek Bekasi pada tahun 1956 dinilai sangat berguna bagi masyarakat. Depkes mendirikan Badan Kesehatan Perdesaan dan pendidikan kesehatan yang dipimpin oleh Dokter J. Sulianti. Untuk ini pemerintah membuat konsep pembaruan antara pelayanan kesehatan perdesaan dan pelayanan medis. Pada proyek Bekasi menekankan perhatian sebagai staf yang ternyata salah satu faktor penting untuk pelaksanaan program secara efisien.

Sistem pelayanan kesehatan membutuhkan kehadiran seorang pemimpin tepatnya seorang petugas kesehatan yang membina kesehatan masyarakat mulai dari Desa, Kabupaten, Kota Madya, sampai Provinsi, dimana kita lihat mulainya pembuatan sekolah kesehatan masyarakat yang dimulai oleh Pemerintah di UI, Yogyakarta, Surabaya, Makassar, dan Medan.

Salah satu membedakan gelar S-2 apakah ya keluaran dari UI maupun yang lain adalah gelarnya yaitu UI memakai MKM artinya (Magister Kesehatan Masyarakat) sedangkan yang lain MKes (Magister Kesehatan saja) itulah hebatnya UI.

Konsep Kedokteran Komunitas pertama kali diperkenalkan di Indonesia oleh Depkes pada awal 1970-an. Akan tetapi waktu itu belum ada rumusan yang jelas tentang apa dan bagaimana ilmu itu dapat diterapkan. Kemudian diadakan beberapa pertemuan antara Depkes dan Depatermen Pendidikan Kebudayaan dalam menyesuaikan Kurikulum Fakultas Kedokteran, komunitas menurut program kesehatan nasional adalah pelayanan terpadu dan menyeluruh mencakup upaya prepentif, promotif, kuratif dan reabilitatif, bagi masyarakat yang diselenggaranakan oleh petugas kesehatan untuk memperbaiki kesehatan masyarakat.

Samapilah kita pengertian kesehatan masyarakat adalah ilmu atau seni yang bertujuan untuk mencegah penyakit, memperpanjang umur, meningkatkan efisiensi hidup, melalui kelompok-kelompok masyarakat yang terkodinir, perbaikan kesehatan lingkungan, mencegah dan memberantas penyakit menular atau perorangan.

Upaya ini perlu dilaksanakan dengan mengkordinasikan tenaga kesehatan dalam satu wadah pelayanan kesehatan masyarakat yang mampu menimbulkan swadaya masyarakat untuk meningkatkan derajat masyarakat secara optimal.

Demikianlah cara singkat perkembangan kesehatan masyarakat dan merupakan cikal bakal kesehatan masyarakat yang lebih maju lagi.

Penulis, dr. USU S-2 FKM-UI Mantan Dokabu Langkat

Tidak ada komentar:

Posting Komentar